MTs Negeri Manggarai- Di tengah kemajuan teknologi hari ini, manusia hidup dalam era yang penuh kemudahan, tetapi juga penuh ujian. Handphone (HP) telah menjadi benda yang paling dekat dengan manusia. Ia dibawa ke mana saja, dipegang setiap saat, bahkan menjadi hal pertama yang dilihat ketika bangun dan terakhir disentuh sebelum tidur. Fenomena ini mengingatkan kita pada kisah klasik tentang Cupu Manik Astagina, pusaka sakti yang bukan hanya menghadirkan pengetahuan, tetapi juga membawa akibat tragis bagi hati manusia.
Ketika Hati Dewi Indradi Menjadi Batu
Dalam kisah tersebut, Dewi Indradi menyimpan Cupu Manik Astagina yang mampu memperlihatkan segala peristiwa di dunia. Namun pusaka itu justru menjadi sumber konflik dalam keluarganya. Anak-anaknya, Anjani, Subali, dan Sugriwa, bertengkar karena ingin menguasainya. Resi Gotama, yang marah melihat kerusakan moral keluarganya, akhirnya menjatuhkan kutukan kepada Dewi Indradi hingga ia berubah menjadi batu.
Perubahan menjadi batu bukan sekadar hukuman fisik, tetapi simbol bahwa hati telah kehilangan kelembutan, kehilangan rasa, dan kehilangan kejernihan. Batu tidak bisa merasakan kasih sayang, tidak bisa menangis, dan tidak bisa memahami penderitaan orang lain.
Refleksi pada Peristiwa Zaman Sekarang
Hari ini, kita menyaksikan banyak peristiwa yang menunjukkan hati manusia seolah telah menjadi seperti batu. Kita mendengar kabar seorang anak yang mengakhiri hidupnya sendiri karena tekanan mental. Kita melihat berita seorang anak yang tega membunuh orang tuanya hanya karena persoalan kecil. Ada pula seorang ibu yang membunuh anaknya, atau seorang anak yang membunuh temannya hanya karena tersinggung oleh hal sepele.
Tidak sedikit pula rumah tangga hancur karena pertengkaran yang dipicu oleh HP. Suami mengancam istri, istri mengancam suami, bahkan sampai terjadi kekerasan dan pembunuhan. Semua bermula dari hal yang kecil, tetapi hati yang tidak lagi lembut menjadikan masalah kecil berubah menjadi tragedi besar.
Di sekolah, fenomena ini juga terlihat jelas. Banyak anak yang tidak lagi peduli dengan belajar, tugas, atau ujian. Fokus mereka bukan lagi pada masa depan, tetapi pada layar HP. Mereka lebih taat kepada notifikasi daripada kepada guru. Mereka lebih patuh kepada konten digital daripada kepada orang tua.
HP telah menjadi seperti Cupu Manik Astagina modern. Ia memperlihatkan segalanya, tetapi tanpa disadari, ia juga bisa mengeraskan hati.
Dari Pusaka Menjadi Penguasa Hati
Cupu Manik Astagina pada awalnya hanyalah benda. HP pun hanyalah alat. Namun keduanya menjadi berbahaya ketika manusia kehilangan kendali. Ketika hati lebih mencintai benda daripada manusia, di situlah kehancuran dimulai.
Hati yang terlalu terikat pada layar akan kehilangan kepekaan terhadap lingkungan. Ia tidak lagi peka terhadap penderitaan orang lain. Ia tidak lagi merasakan kasih sayang secara utuh. Sedikit masalah terasa besar. Sedikit konflik terasa tak tertahankan.
Seperti Dewi Indradi yang berubah menjadi batu, manusia hari ini bisa berubah menjadi “batu secara batin”—tidak peduli, tidak empati, dan tidak memiliki kelembutan hati.
HP Bisa Menghidupkan atau Mematikan Hati
Namun penting untuk dipahami, HP bukanlah musuh. Ia bisa menjadi sumber ilmu, sarana dakwah, alat komunikasi, dan jalan menuju kebaikan. Tetapi jika disalahgunakan, ia bisa menjauhkan manusia dari keluarga, dari tanggung jawab, bahkan dari nilai-nilai kemanusiaan.
Kisah Cupu Manik Astagina mengajarkan bahwa yang harus dijaga bukan hanya benda, tetapi hati. Karena kehancuran tidak dimulai dari benda, melainkan dari hati yang kehilangan kendali.
Menghidupkan Kembali Hati yang Hampir Membatu
Kita perlu mengembalikan HP pada fungsi sebenarnya: sebagai alat, bukan sebagai penguasa. Orang tua harus membimbing anak. Suami dan istri harus menjaga komunikasi langsung, bukan hanya melalui layar. Guru harus mengingatkan murid tentang pentingnya ilmu, bukan sekadar informasi.
Hati manusia diciptakan untuk mencintai, bukan untuk membatu.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi memiliki hati paling keras. Jangan sampai kita bisa melihat dunia melalui HP, tetapi tidak bisa melihat penderitaan orang di sekitar kita.
Kisah Cupu Manik Astagina adalah peringatan abadi: ketika manusia kehilangan kendali atas benda yang dimilikinya, maka bukan hanya hidupnya yang hancur—tetapi juga hatinya.
Dan ketika hati telah menjadi seperti batu, yang hilang bukan hanya perasaan, tetapi juga kemanusiaan itu sendiri. (jiyanto)