You need to enable javaScript to run this app.

Jangan Pernah Meremehkan Peran Seorang Guru, Apalagi Guru yang Mengajarkan Akhlak

  • Rabu, 10 Desember 2025
  • Administrator
  • 0 komentar
Jangan Pernah Meremehkan Peran Seorang Guru, Apalagi Guru yang Mengajarkan Akhlak

Jangan Pernah Meremehkan Peran Seorang Guru, Apalagi Guru yang Mengajarkan Akhlak

Oleh: Jiyanto.

Ada saat di mana manusia memandang bangunan megah peradaban hanya dari hasil akhirnya, tanpa menyadari bahwa fondasi terkuatnya dibangun bukan dari batu, melainkan dari karakter. Dunia yang tampak kokoh hari ini berdiri di atas tangan-tangan sederhana para guru akhlak yang bekerja dalam senyap. Di ruang kelas yang sering dianggap biasa, sejatinya sedang ditempa ruh manusia—ruh yang kelak menentukan arah peradaban.

Allah SWT telah menyiapkan kedudukan mulia bagi orang-orang yang menanamkan nilai kehidupan.
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah: 11).
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan bukan hanya pada banyaknya pengetahuan, tetapi pada keberkahan ilmu yang melahirkan adab.

Rasulullah ﷺ meletakkan tujuan paling hakiki dari pendidikan:
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
Ini adalah penegasan bahwa akhlak bukan pelengkap ilmu, melainkan ruh dari seluruh proses belajar.

Pernyataan Jangan pernah meremehkan peran seorang guru, apalagi guru yang mengajarkan akhlak dari Syekh Dr. Yusri Rusydi Jabr al Hasani al Azhari bukan sekadar nasihat, melainkan sebuah pengingat bahwa manusia dibentuk jauh sebelum mereka memahami rumus atau logika. Manusia dibentuk melalui karakter, dan karakter itu tak lahir sendiri. Ia ditempa oleh tangan-tangan sabar yang mendidik dengan hati.


1. Keheningan yang Mengubah Arah Hidup

Keheningan seorang guru akhlak sering lebih dalam daya sentuhnya daripada seribu kata. Mereka tidak selalu menegur dengan suara keras, namun kehadiran mereka menghadirkan rasa teduh. Dalam sorot mata mereka, murid merasa diakui sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar objek penilaian.

Allah menggambarkan metode pendidikan Rasulullah ﷺ:
“Maka disebabkan rahmat Allah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali ‘Imrān: 159).
Inilah bahasa cinta dalam pendidikan — lembut namun mengubah arah hidup.


2. Teladan yang Bekerja Tanpa Suara

Guru akhlak memahami satu prinsip hakiki: karakter tidak ditanam lewat ceramah panjang, melainkan lewat contoh hidup. Ketika mereka memilih sabar saat marah, jujur saat bisa berbohong, dan adil saat bisa berpihak, murid belajar tanpa sadar.

Allah berfirman:
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Para guru akhlak adalah penerus spirit keteladanan ini.


3. Keberanian untuk Berkata Benar

Di zaman di mana kebenaran sering ditukar dengan kepentingan, guru akhlak mengajarkan keberanian yang sunyi — keberanian menjadi jujur walau sendirian. Mereka mengajarkan bahwa kebenaran bukan hanya untuk diucapkan, tetapi untuk diperjuangkan.

Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan karena Allah.” (QS. An-Nisā’: 135).
Nilai ini hidup dalam didikan guru akhlak.


4. Menyentuh Luka yang Tak Terlihat

Seorang guru akhlak sering membaca tanda-tanda batin yang tak tertulis: perubahan sikap, mata yang kehilangan cahaya, atau keheningan yang terlalu panjang. Mereka hadir bukan sebagai hakim, tetapi sebagai pelindung.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa meringankan kesulitan seorang mukmin, Allah akan meringankan kesulitannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim).
Inilah napas pelayanan yang dibawa guru akhlak.


5. Membuka Ruang Bagi Kerentanan

Guru akhlak mematahkan ilusi bahwa manusia harus selalu tampak kuat. Mereka mengajarkan bahwa luka bukan aib, melainkan bagian dari kemanusiaan. Dari sanalah lahir kejujuran dan kedewasaan.

Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan sombong.” (QS. Al-Isrā’: 37).
Kerendahan hati adalah pintu bagi pertumbuhan jiwa.


6. Menjadikan Kebaikan sebagai Pilihan Sadar

Mereka menanamkan bahwa akhlak bukan reaksi spontan, tetapi keputusan sadar yang diulang setiap hari. Murid belajar bahwa setiap pilihan kecil memiliki dampak besar.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya akan menghapusnya.” (HR. Tirmidzi).


7. Menjembatani Logika dan Hati

Guru akhlak tidak menafikan akal, dan tidak pula menindas perasaan. Mereka mengajarkan bahwa kebijaksanaan lahir dari keseimbangan keduanya.

Allah mengingatkan:
“Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami.” (QS. Al-A‘rāf: 179).
Guru akhlak menghidupkan kembali fungsi hati dalam berpikir.


8. Menanamkan Harapan di Tengah Keputusasaan

Mereka adalah penjaga nyala kecil harapan dalam dada murid. Saat murid tak lagi percaya pada dirinya, guru akhlak meminjamkan keyakinan hingga murid mampu berdiri sendiri.

Allah berfirman:
“Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53).


9. Mengajarkan Bahwa Manusia adalah Amanah

Mereka menanamkan kesadaran bahwa manusia bukan hanya makhluk sosial, tetapi amanah Allah yang harus dijaga martabatnya.

Allah berfirman:
“Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isrā’: 70).
Di sinilah murid belajar bahwa menghormati manusia adalah bagian dari iman.


10. Mewariskan Cahaya yang Terus Hidup

Ilmu akhlak yang ditanamkan guru bukan hanya hidup dalam ingatan, tetapi dalam keputusan hidup murid di masa depan.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila anak Adam wafat, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).


Penutup

Pada akhirnya, dunia mungkin hanya menghitung prestasi yang tampak, tetapi sejarah sejati ditulis oleh mereka yang membentuk karakter manusia. Guru akhlak mungkin tidak banyak dipuja, namun doa-doanya diam-diam membentuk arah hidup banyak jiwa.

Maka, jangan pernah meremehkan peran seorang guru — terlebih guru yang mengajarkan akhlak. Sebab dari merekalah lahir manusia yang bukan hanya cerdas dalam pikiran, tetapi juga selamat dalam hati dan perilaku.

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Jiyanto, S.E

- Kepala Sekolah -

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Pendidikan adalah produk kreatifitas yang sangat luar biasa, aktifitas pendidikan pada hakikatnya adalah sebuah usaha untuk...

Berlangganan
Banner